Bupati Tapteng Resmikan Papan Cerita Hamzah (Al) Fansuri – Bahasa Indonesia yang dikenal masyarakat Internasional berasal dari Barus

  • Bagikan
Foto : Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani meresmikan papan cerita Hamzah Al Fansuri.

Kantong Berita, TAPTENG-Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani meresmikan Papan Cerita (Storynomics) Hamzah (Al) Fansuri, Sastrawan Barus Pada Masa Pembibitan Bahasa Persatuan Indonesia, Selasa (23/11/2021).

Peresmian papan cerita tersebut bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Pembangunan jembatan Fansuri telah diresmikan oleh Bupati Tapteng Bakhtiar tahun lalu. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Balai Bahasa, ternyata karya-karya sastra Fansuri sangat dikenal oleh dunia internasional.

“Jadi ada titik temu sejarah antara nama jembatan ini dengan nama besar Fansuri. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Bahasa yang sudah melakukan penelitian dan kajian ini. Dan barang tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami masyarakat Tapanuli Tengah, bahwa sastrawan pembibitan Bahasa Persatuan Indonesia yang sudah dikenal masyarakat internasional berasal dari Barus yaitu Hamzah Fansuri. Kami berharap akan lahir tokoh-tokoh berikutnya seperti Hamzah Fansuri dari Kabupaten Tapanuli Tengah, melalui dunia sastra untuk semakin memperkenalkan Barus ini,” kata Bupati dalam sambutannya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud Ristek, Dr Muhammad Abdul Khak yang menjelaskan, bahwa Hamzah Fansuri sudah menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sastra jauh sebelum Melayu dalam arti luas menggunakan bahasa Melayu.

Baca Juga :   Setiba Dilokasi Pertandingan Voli, Bupati Tapteng Ditandu; Sebagai Bentuk Kecintaan Masyarakat Nias

Tentu dapat dipahami bahwa bahasa Melayu adalah pangkal dari Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

“Dari titik itulah sebenarnya kami hadir disini untuk menyampaikan kabar kepada seluruh Bangsa Indonesia, bahwa di sini (Barus) pada abad ke-16, bahasa Melayu itu sudah digunakan yang merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,” kata Abdul Khak.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Dr. Maryanto, M.Hum juga mengatakan hal yang senada, bahwa sejak tahun 2001 dia bersama tim telah melakukan penelitian dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait cikal bakal bahasa Indonesia yang berasal dari Barus.

Menurutnya, Bahasa Indonesia bermula dari lima franka, salah satunya ilmu pengetahuan. Yang merupakan tongkat ilmu pengetahuan dalam dunia sastra yang diakui dunia internasional sebagai kalangan ahli bahasa atau sastra adalah Fansuri.

“Fansuri merupakan perintis pemula pemodernan bahasa Melayu ketika bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Dan kita sekarang terus mengembangkan dan memetik hasilnya menjadi bahasa persatuan Indonesia. Banggalah masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah atas hal ini dan kiranya lahir generasi-generasi berikutnya (sastrawan) dari Tapanuli Tengah ini seperti yang diharapkan Bupati Tapanuli Tengah, untuk membawa bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmu pengetahuan di tingkat dunia maupun internasional,” ungkap Maryanto.

Dia juga menjelaskan, bahwa bahasa persatuan Indonesia itu mengikat Kebhinekaan. Dimana Kebhinekaan, sudah terjadi sebelumnya di Barus, mengingat interaksi berbagai suku bangsa sudah ada di Barus dan itu merupakan hasil pengamatan (empiris).

Baca Juga :   DPRD Tapteng Ancam Laporkan PT. SGSR ke Kementerian Lingkungan Hidup Hingga Kepolisian

Titik pertumbuhan bahasa Melayu menjadi bahasa, itu ada di mana-mana. Tetapi salah satu titik yang menunjukkan bahwa di Barus merupakan pembibitan awalnya.

“Kita tidak mengabaikan kebenaran bahwa ada titik pertumbuhan bahasa Melayu di Aceh, di Pesisir Timur, sampai ke Sabang dan Ternate. Itu adalah satu titik-titik perkumpulan bahasa dari Melayu. Tetapi pembibitan awal itu bisa kita lihat di Barus ini, yaitu melalui karya dari Fansuri yang telah diakui dunia internasional, bahwa dialah (Fansuri) perintis bahasa Melayu saat itu. Dan itu bisa dibaca dalam buku Tasawuf yang Tertindas (Kajian Heremeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri), oleh Prof Dr. Abdul Hadi W.M,” tegas Maryanto.

Peresmian Papan Cerita (Storynomics) Hamzah Fansuri ini turut dihadiri Dwi Sutana, M.Hum (Kepala Balai Bahasa Sulawasi Utara), Dr. Muhammad Luthfie Baihaqi, Dr. Arie Andrasyah Isa, M.Hum, Dr. Eva Krisna, M. Hum. Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Darwin Sitompul, Ketua DPRD Tapteng Khairul Kiyeni Pasaribu, Wakil Ketua DPRD Tapteng, Willy Sahputra Silitonga, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Tapteng Boy Hasibuan, Kadis Kominfo Tapteng berserta para pimpinan OPD Pemkab Tapanuli Tengah lainnya, tokoh masyarakat Barus dan juga masyarakat. (red)

  • Bagikan