Demi Sejengkal Perut, Pedagang Ikan Tetap Berjualan Ditengah Penyebaran Corona

Foto : Boru Manullang tetap berjualan ditengah penyebaran wabah Corona.

KantongBerita,SIBOLGA – Pasca merebaknya virus Corona atau Covid-19, kegiatan jual-beli di pasar ikan jalan KH. Ahmad Dahlan Sibolga, Sumatera Utara, masih berlangsung seperti biasa. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan himbauan untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menjaga jarak dengan orang lain guna mengurangi penyebaran virus mematikan tersebut.

Pedagang pasar ikan KH. Ahmad Dahlan tetap melanjutkan usahanya, meski harus berhadapan dengan situasi pandemi ini, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Salah satu pedagang ikan, Boru Manullang, mengungkapkan bahwa dia terpaksa menjual ikan di tengah wabah virus Corona demi mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Jika kami tidak berjualan, bagaimana kami bisa makan? Kami terpaksa berjualan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga kami. Masih ada dua anak yang harus saya tanggung, yang lain sudah menikah,” ujar Boru Manullang saat ditemui di lapak dagangannya pada hari Rabu (1/4).

Lebih lanjut, Boru Manullang mengungkapkan bahwa setelah kematian suaminya 20 tahun lalu, dia telah berjuang keras untuk membesarkan anak-anaknya sendirian. “Saya sudah janda selama 20 tahun sejak suami saya meninggal. Jika saya tidak berjualan, siapa yang akan menyediakan makanan untuk kami?” tambahnya.

Bukan hanya Boru Manullang, warga Kelurahan Aek Habil, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, Sumatera Utara, juga menghadapi kesulitan dalam berjualan di tengah penyebaran virus Corona. Pendapatan pedagang ikan mereka sangat menurun, dari yang sebelumnya mencapai Rp300.000 per hari, kini hanya sekitar Rp75.000 saja.

“Kami harus bermain kucing-kucingan dengan petugas. Meskipun kami sudah dilarang untuk berjualan, namun kami tetap melakukannya karena inilah satu-satunya sumber penghasilan kami. Jika petugas datang, kami menutup sebentar. Kami tidak menyalahkan mereka karena mereka hanya menjalankan tugas mereka. Sebelumnya, saya bisa menjual ikan sebanyak tiga kali lipat setiap hari. Sekarang, hanya satu kali lipat saja. Meskipun pendapatan menurun drastis, kami masih bersyukur bisa mendapatkannya,” ungkapnya.

Menurut Boru Manullang, penurunan pendapatan tersebut disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat akibat penyebaran virus Corona saat ini. “Daya beli masyarakat menurun. Tidak ada lagi pembeli yang membeli dalam jumlah besar. Selain itu, pengiriman ikan ke Pesawatpun sudah tidak lagi tersedia,” tambahnya.

Meskipun dalam kondisi sulit, Boru Manullang menyatakan bahwa dia tidak kesulitan mendapatkan pasokan ikan untuk dijual, karena para nelayan tetap melaut meskipun harga ikan turun.

“Meskipun stok ikan tidak melimpah, namun masih ada. Harga ikan juga turun drastis sejak munculnya virus Corona. Sebagai contoh, harga ikan Timpi sekarang hanya Rp8.000 per kilogram, sedangkan sebelumnya bisa mencapai Rp12.000 per kilogram. Harga ikan Gabu sekarang berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000, sedangkan sebelumnya bisa mencapai Rp50.000 per kilogram,” jelas Boru Manullang.