Ditodong Senpi Istri Lapor Suami ke Polisi

  • Bagikan

Kantong/Sibolga-Polisi menangkap seorang pria dari jalan Pari, Kelurahan Pancuran Gerobak, Kecamatan Sibolga Kota, Kota Sibolga, Sumatera Utara, Jum’at (20/3) sekira pukul 22.00 WIB. Pria tersebut berinisial AK (36) warga jalan Jati, Gang Serasi tersebut ditangkap setelah dilaporkan oleh istrinya Mentari Mendrofa (25).

Kepada Polisi Mentari mengaku diancam hendak dibunuh dengan menggunakan senjata api (senpi) oleh suaminya AK. Kejadian bermula saat Mentari minggat dari rumah, setelah mengetahui suaminya selingkuh dengan wanita lain. Dan malam itu, suaminya AK datang ke rumah kakak Mentari di kompleks Rusunawa Jolong Basusuk Sibolga, hendak menjemput anaknya.

“Jum’at (20/3) sekira pukul 14.00 WIB, AK pergi ke jalan KH. Ahmad Dahlan, di sekitar kompleks Rusunawa untuk menjemput anaknya yang tinggal dirumah kakak isterinya (Mentari). Karena, sudah sekitar 1 bulan istrinya pergi meninggalkan rumah. Sebab istrinya mengetahui bahwa AK ada menjalin hubungan dengan perempuan lain,” terang Kapolres Sibolga AKBP Triyadi melalui Kasubbag Humas Iptu Ramadhansyah Sormin, Rabu (26/3).

Kemudian, AK membawa anaknya naik sepeda motor ke tempat Mentari bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di jalan R. Suprapto Sibolga. AK lalu menyuruh Mentari pulang. Namun Mentari menolak.

“Sudah pulang, tanya AK pada istrinya. Mentari menjawab, belum, nanti jam 6 (pukul 18.00 WIB). Kemudian AK mengeluarkan senpi dari pinggangnya dan mengatakan, keluar nanti kita sebentar ya dik. AK lalu membawa anaknya pulang ke rumah,” ungkapnya.

Baca Juga :   Polisi Temukan Sabu dari Kotak Rokok Pria Ini

Mentari kemudian datang sekira pukul 17.30 WIB, untuk mengajak anaknya pulang. Karena anaknya tidak mau, akhirnya Mentari meninggalkan rumah tersebut. “Pulang mamak ya. Kemudian Mentari meninggalkan rumah itu naik betor,” ujar Sormin.

Tidak beberapa lama kemudian, anak tersebut merengek mencari ibunya. AK lalu membawa anaknya mengejar Mentari. Tiba di depan sebuah rumah ibadah di jalan Merpati, AK memaksa betor yang ditumpangi istrinya untuk berhenti, dengan menodongkan senpi kearah kaki supir betor.

“Mana mama yah, kata anaknya. AK menjawab, sudah pulang, tadi kau diajak tidak mau. Lalu AK membawa anaknya menyusul ibunya dengan naik kreta. Tiba di jalan Merpati, hentikan, kalau tidak kutembak kakimu, kata AK sambil mengarahkan senpi softgun ke pengemudi betor. Sehingga pengemudi betor menghentikan betornya dan kemudian menyuruh Mentari naik ke kreta AK. Mentari menjawab, tidak mau aku, kau tembak matipun, aku tidak mau,” ungkap Sormin menirukan perkataan Mentari saat itu.

Karena menolak, AK pun kembali menodongkan senpi nya ke wajah Mentari. “Tidak mau kau sama aku, tengoklah, kumatikan kau nanti. Tidak tenang kau nanti kubuat, malu kau ditempat kerjamu, kata AK sambil menjambak rambut Mentari. AK juga mengatakan, bukan tentara saja yang punya senjata, akupun punya senjata. Kemudian AK meninggalkan tempat tersebut dan meninggalkan anaknya, pergi ke pelabuhan lama,” kata Sormin.

Baca Juga :   Terjadi di Sibolga, Suami Gantung Diri Usai Bertengkar dengan Istri

Dari hasil pemeriksaan, diketahui maksud AK mengancam istrinya, agar istrinya tersebut mau kembali padanya. Sementara, senpi jenis softgun merk KWT made in Taiwan 177 cal 4,5 mm warna hitam, yang tidak dilengkapi dokumen resmi tersebut menurut AK merupakan milik seseorang, yang identitasnya telah dikantongi. Pemilik senpi tersebut menyuruh AK untuk menjualnya seharga Rp1.000.000 sampai Rp5.000.000.

Menurut catatan kepolisian, pria yang telah dianugrahi seorang anak dari Mentari tersebut sebelumnya sudah pernah dihukum 2 kali. Pertama, tahun 2002, dalam kasus Narkotika, dihukum selama 1 tahun 1 bulan. Kemudian, tahun 2003 dalam kasus penganiayaan, dihukum selama 6 bulan di Lapas Tukka.

AK akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di RTP Polres Sibolga. Karena telah melakukan tindak pidana memiliki senjata api tanpa dilengkapi dengan izin serta melakukan pengancaman. Dia diganjar dengan pasal 2 ayat 1 Undang-undang nomor 12/DRT/1951 dan pasal 335 ayat 1 dari KUHPidana, dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun. (red)

  • Bagikan