Kelangkaan LPG 3 Kg Bukan Karena Penambahan Pangkalan | Begini Penjelasan dari Pihak Pertamina

Foto : SBM Rayon 3 Sibolga Dany Sanjaya. (int)

Kantong Berita, SIBOLGA-Terkait kelangkaan LPG 3 Kg yang terjadi di Sibolga, bukan karena adanya pengurangan kuota atau akibat adanya penambahan jumlah pangkalan seperti yang disampaikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sibolga beberapa hari lalu.

Menurut Sales Branch Manager (SBM) Rayon 3 Sibolga Dany Sanjaya, kelangkaan tersebut disebabkan karena tidak beroperasinya 2 truk pengangkut gas milik salah satu agen di Sibolga. Karena, masa pakai truk tersebut telah habis.

“Bukan karena pembatasan kuota dari Pertamina. Tapi karena 2 truk PT. Djuwilly habis masa pakai,” kata Dany dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (26/7/2023).

Namun pihak agen telah mengurus kembali perpanjangan masa pakai truk tersebut ke pihak Pertamina. Sehingga, penyaluran LPG 3 Kg saat ini dipastikan sudah kembali normal.

“Senin (24/7/2023) kemarin sudah diurus dan harusnya sudah normal kembali. Senin itu, mereka mulai ngangkut 4 LO, Selasa 8 LO. Rabu 7 LO. Besok Kamis sudah normal 4 LO. 1 LO sama dengan 560 tabung,” terang Dany.

Dari data Pertamina, di Sibolga terdapat 3 agen yang membawahi 110 pangkalan. PT. Djuwilly Jaya Gasindo memiliki 72 pangkalan, PT. Sibolga Nauli Energi 14 pangkalan dan PT. Sibolga Energi Minapolitan (SEM) memiliki 24 pangkalan.

“Kalau mengusulkan penambahan pangkalan, bisa, tapi harus dengan surat dari kepala desa atau lurah. Daftar dulu ke kami (PT. Pertamina). Baru kami cek, apakah layak atau nggak,” pungkasnya.

Untuk kuota LPG 3 Kg Sibolga pertahunnya tercatat sebanyak 893.000 tabung. Sehingga perbulannya mencapai 74.000 tabung, yang dibagi 3 agen.

Sementara, yang sudah tersalur hingga saat ini sebanyak 1.757.000 tabung, artinya sudah mencapai 132%, melebihi dari target kuota yang diberikan oleh Pertamina.

Dari data ini disimpulkan bahwa, di Sibolga masih banyak warga mampu yang mengonsumsi tabung gas bersubsidi.

“Jadi pengawasannya yang perlu ditingkatkan. Apakah rumah makan, ASN boleh menggunakan LPG 3 Kg. Kalau pemerintah mau, kita sama-sama turun didampingi petugas dari Kepolisian,” tukasnya.

Terkait Harga Eceran Tertinggi (HET), sesuai Surat Keputusan Gubernur Sumut Nomor 188.44/546/KPTS/2023 tentang penetapan HET LPG 3 Kg tertanggal 10 Juli 2023, ditetapkan harga ditingkat agen Rp15.000/tabung dan di tingkat pangkalan Rp17.000/tabung.

“Semua agen Sibolga sudah mengambil LPG dari PT. Qalbun Salim (SPBE Poriaha Tapteng). Jadi, HET nya sudah layak direvisi mengacu pada Pergub,” terang Dany sembari mengimbau seluruh agen dan pangkalan agar tidak menjual gas tabung melon diatas HET yang sudah ditentukan.

Untuk mengontrol penyaluran gas bersubsidi agar tepat sasaran, Dany menyebut kalau Pemerintah saat ini telah mulai menggunakan sistem Log book sejak 1 Mei 2023 melalui aplikasi My Pertamina.

Direncanakan, program ini akan berlaku di seluruh Indonesia per 1 Januari 2024.

Diberitakan sebelumnya, kelangkaan LPG 3 Kg masih terus terjadi di Kota Sibolga. Selain langka, harga jual di pasaran juga bervariasi, tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Sibolga Ananta Siregar.

Namun kata Ananta menjelaskan, pihaknya tidak dapat berbuat banyak dengan situasi tersebut. Karena saat ini, pihaknya hanya punya kewenangan mengawasi dan melaporkan.

“Tetap boleh melapor ke Disperindag, ke bagian perlindungan konsumen. Nanti, kami lapor lagi ke Disperindag provinsi. Kami hanya sebatas pengawasan dan pelaporan ke pihak Pertamina,” jelas Ananta, Senin (24/7/2023).

Meski demikian, kata Hendry Sinaga, Pengawas Perdagangan Disperindag Sibolga menimpali, sesuai hasil temuan mereka di lapangan, kelangkaan terjadi bukan karena kurangnya pasokan gas dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).

Dari keterangan beberapa pengusaha pangkalan LPG 2 Kg yang mereka terima mengatakan, kelangkaan saat ini terjadi, disebabkan bertambahnya jumlah pangkalan, seiring dengan dikuranginya jatah setiap pangkalan yang sudah ada sebelumnya.

“Misalnya, biasanya mereka dapat jatah 20 tabung perhari, sekarang tinggal 15 tabung aja, karena adanya penambahan pangkalan dari pihak agen. Sehingga, langganan yang biasa beli ke mereka, jadi gak kebagian lagi semua. Mereka bilanglah langka, padahal karena gak dapat lagi di pangkalan langganannya,” kata Hendry.

Dari data Disperindag diketahui ada 3 agen tabung gas bersubsidi di Kota Sibolga. Namun menurut pihak Disperindag Sibolga, 1 diantaranya tidak pernah bisa terdata berapa kuota LPG 3 Kg yang diperoleh dari PT. Pertamina dan berapa jumlah pangkalan yang terdaftar.

“Dari 2 agen yang kita data, jatah Kota Sibolga perbulan itu sekitar 64.000 tabung. Dari data pangkalan tahun 2021, PT. SEM punya 28 pangkalan dan PT. Djuwilly 65 pangkalan. Kalau agen yang di Simaremare tidak pernah berhasil kita data. Karena, setiap kami datang, pemiliknya tidak pernah ada. Sementara, anggotanya gak tahu menahu soal gas ini,” ungkapnya.

Terkait Harga Eceran Tertinggi (HET), Hendry mengaku belum ada perubahan, masih Rp17.500 pertabung.

Padahal, saat ini di daerah Poriaha, Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapanuli Tengah sudah ada berdiri SPBE.

Artinya, dengan ada SPBE tersebut, HET LPG 3 Kg Kota Sibolga sudah dapat direvisi, untuk penurunan harga, yang disesuaikan dengan jarak tempuh. (red)