MARI KITA SAMBUT HARI YANG FITRI INI DENGAN PENUH KEGEMBIRAAN DAN RASA SYUKUR - SEGENAP KRU KANTONGBERITA.COM MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1445 H/2024 banner 325x300

banner 325x300

Pj Bupati Tapteng Resmikan Museum Fansuri | Bukti di Abad II Masehi Sudah Ada Kosmopolitan dan Kemajemukan Orang Lokal

Foto : Pj Bupati Tapteng Elfin Elyas menggunting pita tanda diresmikannya Museum Fansuri Situs Bongal.

Kantong Berita, TAPTENG-Pj Bupati Tapteng Elfin Elyas meresmikan Museum Fansuri Situs Bongal yang terletak Desa Jago-jago Kecamatan Badiri, Sabtu (13/05/2023).

Mengawali sambutannya, Pj Bupati menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Sultanate Institute dan seluruh pihak yang telah mensupport pembangunan Museum Fansuri.

“Museum Fansuri ini kebanggaan kita, kita sekarang berada di tanah bersejarah dan ini diungkapkan dari data-data arkeologi, dari data geologi, dari data etnografi serta historikal. Ini bukan data sembarangan atau ucapan sembarangan tapi melalui ilmu pengetahuan mimbar akademik, melalui penelitian yang dilakukan oleh Sultanate Institute,” kata Pj Bupati.

Dimana menurut penelitian yang dilakukan oleh Sultane Institute lanjut Elfin, Museum Bongal masih fazel kecil yang harus diungkap terhadap sejarah yang cukup panjang.

Sejak abad II Masehi sudah ada kosmopolitan dan kemajemukan orang lokal, bisa bertemu dengan orang luar Negeri dari Eropa, Arab, dan India.

“Agama Hindu, agama Islam, Kristen semua berkumpul di Bongal pada masa itu. Sungguh hal yang luar biasa dan kita tidak boleh mengabaikan sejarah, tanah dan tempat kita berada sekarang menjadi saksi bahwa sejak abad II sudah ada transaksi perdagangan orang luar negeri dengan penduduk lokal,” ungkapnya.

Masih kata Pj Bupati sekilas menjelaskan hasil penemuan di Situs Bongal, sejak abad ke II Masehi daerah Jago-jago merupakan jalur perdagangan rempah.

Perdagangan dunia telah
terhimpun berkolaborasi dan menjadi kosmopolitan dengan penduduk lokal dan berbagai bukti sejarah.

“Dalam museum bisa kita lihat adanya hasil-hasil kerajinan pada masa itu hingga alat-alat kedokteran, temuan ini sangat luar biasa dan kita ingin dunia tahu dan kita akan membuat situs ini menjadi kebudayaan Dunia,” pungkasnya.

Elfin berharap Pemerintah Pusat dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Asosiasi Museum agar memberikan perhatian khusus, menetapkan Situs Bongal menjadi Cagar Budaya.

“Kepada Kepala Desa Jago-jago dan Pemerintah Kecamatan Badiri agar mengedukasi masyarakat menjaga Situs Bongal dan Museum Fansuri dengan harapan kedepan Situs Bongal Museum Fanshuri menjadi salah satu tujuan wisata baru di Tapteng,” tukas Elfin.

Sebelumnya, Direktur PT. Media Literasi Nesia Abu Bakar Bamuzaham menyampaikan bahwa proses pembangunan museum Fansuri Situs Bongal dibiayai oleh PT. Media Literasi Nesia yang bergerak di bidang penerbitan buku-buku sejarah.

“Untuk kepentingan itu kita membuat Sultanate institut dan menggagasi pembangunan Museum Fasuri Situs Bongal,” kata Abu Bakar sembari mengucapkan terimakasih kepada Pemkab Tapteng yang telah ikut bersinergi didalam Situs Bongal dan pembangunan Museum Fansuri.

Harapannya, Museum Fansuri Situs di Bongal akan menjadi penyemangat bagi Sultanate Institut dan dapat dijadikan penelitian yang berkelanjutan.

Amatan di lokasi peresmian Museum, tampak ritual adat setempat juga digelar, seperti Upa-upa oleh masyarakat kepada para pejabat Pemerintah, serta mangure.

Dengan harapan menurut kepercayaan masyarakat setempat, agar mendapat lindungan dari Tuhan dan dijauhkan dari mara bahaya.

Kemudian, dilakukan pengguntingan pita tanda diresmikannya Museum Fansuri Situs Bongal, serta penandatanganan prasasti oleh Pj Bupati Tapteng, Elfin Elyas, Direktur Perlindungan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Judi Wahjudin S.S M.Hum dan Kepala Organisasi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Dr Herry Yogaswara,M.A.

Hadir pada peresmian Museum tersebut, Wakil Ketua DPRD Sumut Rahmansyah Sibarani, SH, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sukronedi, dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia Daerah Sumut Dra Sri Hartini ,M.Si.

Kemudian, dari Organisasi Riset (OR) Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra), serta para Peneliti.

Plh Sekda Tapteng, Asisten, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tapteng Boy Rahman Hasibuan dan Pimpinan OPD Tapteng lainnya, Camat, Lurah dan Kepala Desa se-Kecamatan Badiri, Kepala Sekolah SD dan SMP se-Tapteng dan juga para Siswa-siswi SD dan SMP. (red)