Pria dalam Rekaman Ternyata Petugas Pendamping; Bantah Potong Bansos dan Loloskan yang Belum Vaksin

Kantong Berita, SIBOLGA-Seorang pria bernama Syafran Koto mengklarifikasi terkait rekaman warga penerima Bansos yang mengaku belum vaksin dan hanya menerima Rp800.000 dari total bantuan Rp1.000.000 yang diberikan Kementerian Sosial RI bagi warga Lanjut Usia (Lansia)

Ditemui di kantor Dinas Sosial Kota Sibolga, pria yang merupakan petugas pendamping dari Kementerian Sosial untuk Kecamatan Sibolga Kota tersebut mengaku kalau pria bernama Saknan yang disebut dalam rekaman adalah dirinya. Sedangkan, wanita penerima Bansos adalah Murdiana Simatupang.

Menurut Safran tudingan yang ditujukan padanya terkait pemotongan Bansos sebesar Rp200.000-Rp400.000, tidak benar. Begitu juga dengan tudingan sebagai orang yang meloloskan penerima Bansos yang belum di vaksin. Karena kata Safran, pihaknya tidak punya kewenangan untuk itu.

“Ini suara Murdiana Simatupang yang gak bervaksin, yang kata mereka saya back-up. Darimana saya mem back-up dia. Di gedung nasional ada tim vaksin, siapa yang mau mengambil bantuan, kalau dia belum di vaksin, dia harus di vaksin, baik itu vaksin 1, 2 dan 3. Kami tidak ada kewenangan memasukkan orang yang tidak bervaksin mengambil bantuan,” kata Safran saat mendengarkan suara rekaman, Jumat (22/4/2022).

Safran dengan tegas membantah telah memotong bantuan Murdiana sebesar Rp200.000 seperti yang ada pada rekaman.

“Ceritanya begini, teti (kakak) ini ada mendapat. Terus nanti, kalau seandainya teti mau mengambil, teti harus bervaksin. Aku gak bisa di vaksin, ada penyakit ku, katanya (Murdiana). Nanti yang menentukan penyakit itu, di gedung nasional. Ada timnya disitu kubilang, tim vaksin. Tiba-tiba sudah masuk saja dia (ke gedung Nasional), jadi aku beranggapan, sudah melaksanakan vaksin dia mengambil,” terang Safran mengawali ceritanya.

Setelah memperoleh kartu Bansos lanjut Safran, Murdiana bermohon agar Bansos berupa sembako yang diperolehnya ditukar dengan uang. Dengan alasan, agar uangnya dapat dia pakai untuk membeli obat.

“Kubilang, ini 5 karung beras, telor 5 papan. Terus katanya, gak lah sembako sama aku, uanglah sama aku. Mengapa uang kubilang, karena terbantu kali aku berobat katanya. Jadi kubilang, kalau teti mau uang, kan sembako itu yang 5 paket itu kan, untung dari BRI Link itu kan disitu. Biasanya mereka mengambil untung itu Rp20 ribu per paket. Jadi kalau dia 5 paket berarti Rp100 ribu. Sebenarnya gak bisa kita uangkan itu. Kalau BRI sembako, beda dengan yang di kantor pos, uang tunai,” ungkapnya.

Dengan alasan ingin menolong, Safran kemudian membantu warga binaannya tersebut untuk mengganti Bansos sembako dengan uang.

“Karena dia minta tolong, maka saya coba fasilitas supaya teti ini gak usah lagi dikasih sembako. Dikasihlah sama dia uang tunai. Jadi uang tunai Rp1 juta ini, dikasihkan agenlah ini, dipotongnyalah untungnya disitu. Jadi Rp900 ribulah pulang sama teti. Saya antarkan lah ini sama istri saya ke Teti, setelah diterima, dikasihnya saya Rp100 ribu,” terang Safran.

Awalnya dia sempat menolak uang pemberian Murdiana, karena takut akan menjadi persoalan dikemudian hari. Namun, Mudiana saat itu kata Safran mengaku memberi dengan iklas.

“Saya bilang sama dia, teti jangan ini jadi masalah nanti, teti kasih uang Rp100 ribu, jadi masalah. Oh nggak, iklasnya aku. Sudah terbantu aku beli obat,” kata Safran sembari mengatakan siap bila hal ini di konfrontir dengan Murdiana. (red)