Saat Kejadian, Aek Martolu Harusnya Tutup Karena PPKM; Kades Mengaku Sudah Serahkan Surat Pemberitahuan ke Pengelola

  • Bagikan
Foto : Jenazah Rumuntar saat hendak diberangkatkan ke pemakaman di Paranginan Kabupaten Humbahas.

Kantong Berita, TAPTENG-Rudi Siburian, ayah kandung Rumuntar Soaloon Siburian, pelajar SMK yang tewas tenggelam di Sungai Aek Martolu Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (10/8) lalu, masih berduka atas kepergian putra kesayangannya tersebut.

Kepada Wartawan, Rudi mengaku kecewa dengan sikap pengelola objek wisata Sungai Aek Martolu.

Pasalnya, hingga anaknya dikebumikan, pihak pengelola memilih diam atas kejadian naas tersebut.

“Sampai hari ini, ucapan turut berduka cita pun tak ada dari pengelola. Saya gak mengharapkan apa-apa dari mereka,” kata Rudi.

Sementara menurut informasi yang dia terima, saat kejadian itu objek wisata Aek Martolu harusnya tutup. Sesuai surat pemerintah daerah yang menginstruksikan seluruh lokasi wisata ditutup, sehubungan dengan pemberlakuan PPKM.

“Saya gak menuduh siapa yang salah. Tapi, harusnya Aek Martolu itu sudah ditutup saat kejadian, sesuai perintah pemerintah. Tapi, kenapa saat itu mereka masih buka,” tukasnya.

Terpisah, Rici Hutagalung, Kepala Desa Rampah, yang diketahui sebagai penanggungjawab pengelolaan objek wisata Sungai Aek Martolu yang di konfirmasi via telepon selular nya membenarkan kejadian tenggelamnya seorang pelajar di Sungai Aek Martolu.

Baca Juga :   Pemalakan Kembali Terjadi di Tanggo Saratus; Korban Dipukul dan Diancam dengan Parang

Rici juga membenarkan adanya instruksi Bupati Tapteng terkait penutupan sementara objek wisata tersebut, sehubungan dengan pemberlakuan PPKM.

Namun sekilas ada yang aneh dengan pernyataan Kepala Desa Rampah tersebut, yang menyebut pengelolaan Sungai Aek Martolu merupakan kewenangan pihak lain diluar Pemerintah.

Sementara, fasilitas objek wisata tersebut dibangun dengan menggunakan uang negara, melalui dana desa tahun anggaran 2018 dan 2019.

“Sudah saya sampaikan surat dari Bupati kepada pengelola. Mulai tanggal 10 Agustus sampai tanggal 23 Agustus, Aek Martolu harus tutup. Jadi bukan karena kejadian itu ditutup, tapi karena PPKM. Surat itu sudah saya serahkan kepada pengelola,” sebut Rici.

Sebelumnya, Rumuntar Soaloon Siburian tewas tenggelam di sungai Aek Martolu, Selasa (10/8).

Baca Juga :   Supir 'Ngantuk', Mobil Pick Up Seruduk Bengkel di Tapteng

Menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang keluarga dekat korban, saat itu, korban baru tiba dari Kampung Pon, Kabupaten Serdang Bedagai.

Korban bersama ayah, ibu dan saudaranya yang lain rencananya ingin menghadiri pesta keluarga di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (11/8).

Siangnya sekira pukul 11.00 WIB, korban pergi bersama teman-temannya hendak berenang di Aek Martolu.

Setibanya di Sungai, korban awaknya hanya duduk sambil main HP di pinggir sungai. Sementara teman-temannya, asyik berenang.

Sejam kemudian, adik korban bernama Adian Siburian tiba-tiba berteriak minta tolong, melihat abangnya yang sudah tenggelam.

Salah seorang teman korban sempat mencoba menolong, namun gagal. Korban yang sudah lemaspun langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat. Pihak medis kemudian menyatakan korban telah meninggal dunia.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di desa Mardame, sebelum dimakamkan di Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan keesokan harinya, Rabu (11/8). (red)

  • Bagikan