Pekerjakan Karyawan 12 Jam Perhari, SBSI Ancam Demo Hotel WI

  • Bagikan
Foto : (Dari kiri) Syafii, Mujiono dan Binsar Tambunan.

Kantong Berita, SIBOLGA-Setelah tutup selama 2 bulan karena wabah virus Corona, Hotel Wisata Indah (WI) Sibolga kini telah beroperasi seperti biasa.

Namun sayang, hal itu malah tidak membawa hawa segar bagi para karyawan Hotel.

Sejak beroperasi kembali Juni 2020, pihak pengusaha malah menerapkan aturan baru yang dinilai mencekik para pekerja Hotel. Dengan mempekerjakan karyawan 12 jam sehari.

Tak hanya itu, sistem pengupahanpun ikut dirubah oleh pihak pengusaha.

Sebelumnya, karyawan diupah dengan hitungan bulan. Sekarang, dengan hitungan hari.

“Kerja 12 jam sehari. Masing-masing karyawan hanya bekerja selama 15 hari dalam sebulan, dengan hitungan upah perhari. Gaji pokok Rp85 ribu perhari, ditambah uang makan Rp10 ribu perhari. Shiftpun sekarang tinggal 2, sebelumnya 3,” kata Mujiono (64) koki Hotel WI menyampaikan keluhannya, Rabu (16/7).

Awalnya, dia sempat berfikir untuk berontak, tidak mau bekerja lagi. Namun, setelah difikir-fikir, tindakannya tersebut akan menjadi bumerang terhadapnya.

“Saya jelas gak mau, memberontak. Saya sih maunya gak kerja. Tapi, kalau gak masuk 5 hari berturut-turut sesuai undang-undang tenaga kerja, berarti saya dinyatakan mengundurkan diri. Sementara, kalau mengundurkan diri, tidak ada pesangon,” ungkapnya.

Baca Juga :   Di Sibolga, Warga yang Isolasi Mandiri Dapat Bantuan dari Pemerintah

Pria yang sudah bekerja selama 25 tahun di Hotel WI ini menduga, pihak pengusaha Hotel sengaja berlindung dibalik Pandemi Covid-19.

Padahal menurutnya, tingkat hunian Hotel saat ini telah membaik. Bahkan, bila dibandingkan dengan masa sebelum Pandemi Covid-19, hunian Hotel saat ini mengalami peningkatan.

“Tingkat hunian Hotel sudah stabil. Hunian kamar sudah rata-rata diatas 30 kamar sehari. Sebelum Corona saja, mau dibawah 20 kamar sehari. Ini kami duga sengaja berlindung dibalik Corona,” ketusnya.

Ditimpali Syafii Tanjung (43), yang juga bekerja sebagai koki di Hotel WI Sibolga yang menyebut kalau pihak Hotel juga belum membayar lunas Tunjangan Hari Raya (THR) mereka tahun 2020.

“2 bulan lebih kami dirumahkan tanpa pesangon. Mereka kayaknya mau banyak untung aja, THR aja pun dicicil. Sampai sekarang belum lunas, masih ada setengah lagi. Mereka mengandalkan situasi Covid ini untuk membayar semua tunggakan. Padahal dari Walikotapun pajak Hotel sudah di gratiskan. Artinya, gak begitu banyak lagi beban mereka,” kata Syafii.

Baca Juga :   Temannya 'Bernyanyi', Nelayan Ini Dijemput Polisi dari Rumahnya

Dia juga menyebut, sejak tahun 2018 gaji karyawan Hotel WI masih dibawah UMK.

“Gaji kami masih dibawah UMK, hanya sekitar Dua Jutaan sebulan. Padahal UMK sekarang sudah Rp3.004.000,” pungkasnya.

Sementr itu, Binsar Tambunan, Ketua SBSI Sibolga-Tapteng mengaku akan menggelar aksi demonstrasi dalam waktu dekat, bersama karyawan Hotel.

Tak hanya itu, mereka juga rencananya akan melaporkan pihak pengusaha ke Aparat Penegak Hukum (APH).

“Kami akan demo Hotel WI dan akan melaporkan pengusahanya ke APH. Karena membayar upah dibawah ketentuan. Itukan pidana kejahatan. Kami anggap adanya sistem perbudakan yang diterapkan dengan alasan Covid-19. Pengusaha sengaja berlindung dibalik Corona. Sementara, sejak buka tanggal 2 Juni hingga sekarang, tingkat hunian sudah mencapai 1000 kamar perhari. Kita gak tahu apa dasar pengusaha melakukan ini. Kita malah yakin pengusaha punya uang sekarang,” pungkasnya. (ril/jul/kb)

  • Bagikan