banner 728x250

Terkait Aksi Warga Hadang Truk Tanah di Areal Proyek Pelabuhan Lama, Begini Penjelasan Pengawas

Foto : Kondisi jalan menuju areal proyek Pelabuhan Lama usai di siram.

Kantong Berita, SIBOLGA-Pihak pengawas proyek milik Dinas Pariwisata Kota Sibolga merespon aksi warga Kelurahan Kota Beringin, Kecamatan Sibolga Kota yang menghadang truk pengangkut tanah timbun masuk ke areal Pelabuhan Lama atau Anggar.

Menurut Asmar Zunawi Harahap, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada 8 paket proyek yang ada di areal Pelabuhan Lama, meski sudah bekerja selama 3 bulan, namun baru sebulan terakhir frekuensi truk pengangkut tanah mengalami kenaikan.

“Untuk proyek yang butuh tanah penimbunan, ada 3 paket, food court, taman dan open space. Tapi baru sebulan ini frekuensinya tinggi,” kata Asmar ditemui di kantor Dinas PU-PR Sibolga, Rabu (10/8/2022).

Dijelaskannya, setelah frekuensi kerja meningkat, pihaknya juga memperhatikan dampak debu yang ditimbulkan tanah merah yang berjatuhan di sepanjang jalan menuju pintu masuk Pelabuhan.

Sesuai bukti rekaman video yang diperlihatkan Asmar, sudah beberapa kali mereka menyiram jalan untuk mencegah debu bertebaran.

“Setelah dikebut, baru kita lakukan penyiraman dan sudah 2 kali disiram, Minggu yang lewat sudah pernah disiram sekali, hari ini kedua kalinya. Karena baru belakang ini terjadi, timbul debu,” ungkapnya.

Meski demikian kata Asmar menambahkan, pihak rekanan telah menyelesaikan persoalan tersebut dengan warga sekitar secara baik-baik.

“Rekanan sudah melapor, sudah diselesaikan secara baik-baik dengan warga. Nanti dikasih Rp500 ribu perminggu, warga yang siram 3 kali seminggu. Jadi gak ada masalah lagi,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Kelurahan Kota Beringin, Kecamatan Sibolga Kota, Kota Sibolga Sumatera Utara, menghadang truk pengangkut tanah masuk ke areal Pelabuhan Lama atau Anggar, Rabu (10/8/2022).

Menurut Infus Hutapea, salah seorang warga yang melakukan aksi, penghadangan dilakukan karena truk pengangkut tanah timbun ke proyek Pemko Sibolga yang ada di areal Pelabuhan tersebut menimbulkan banyak debu disepanjang jalan. Sehingga, mengganggu sistem pernafasan dan penglihatan.

“Orang jadi susah bernafas dan penglihatan pun terganggu karena abu ini,” kata Infus diamini rekannya Attin Sinaga dan Boy.

Menurutnya, pihak rekanan dan Dinas terkait tidak peduli dengan dampak tanah yang berjatuhan di sepanjang jalan menuju lokasi proyek.

Karena masih kata Infus, selama 3 bulan bekerja, jalan yang dipenuhi tanah merah tersebut tidak pernah disiram atau dibersihkan.

“Sudah 3 bulan mereka bekerja, tapi jalan ini gak pernah mereka siram. Inipun tadi, karena kami telponnya (dinas) PU, baru mereka siram,” ungkapnya.

Warga berharap rekanan atau dinas terkait bersedia menyiram jalan setiap harinya, demi kenyamanan warga sekitar dan pengguna jalan lainnya.

“Yang penting, harus disiram. Terserah mereka mau darimana airnya, supaya gak mengganggu,” pungkasnya.

Hadir di lokasi aksi, sejumlah Kepala Lingkungan setempat, Bhabinkamtibmas dan perwakilan rekanan.

Setelah dilakukan mediasi, disepakati pihak rekanan kedepannya akan memberikan Rp500.000 setiap minggunya kepada warga sekitar, sebagai jasa menyiram jalan.

“Berarti permintaan warga, harus disiram 3 kali seminggu. Oke, kami kasih Rp500 ribu seminggu. Berarti, masalah penyiraman jalan sudah jadi tanggung jawab warga, bukan lagi tanggung jawab kami,” kata seorang rekanan yang diketahui bermarga Pasaribu dan disambut baik oleh warga sekitar dan perwakilan pemerintah Kelurahan.

Usai mediasi, truk kemudian diperbolehkan masuk ke areal Pelabuhan.

Meski sebelumnya, beberapa truk pengangkut tanah timbun memilih untuk meninggalkan lokasi aksi untuk membuang muatannya ke tempat lain.

Karena, mereka tidak ingin, akibat aksi tersebut, waktu kerja mereka terbuang sia-sia. (red)