banner 728x250

Yayasan Ubudiatul Hasanah Bantah Ketua DPRD Tapteng Lindungi Pelaku Cabul

Foto : Ketua Yayasan Ubudiatul Hasanah, H. Kamal Lubis (Lobe Putih) saat menggelar konfrensi pers.

Kantong Berita, TAPTENG-Informasi yang menuding Ketua DPRD Tapteng Khairul Kiyedi Pasaribu melindungi pelaku perbuatan tidak senonoh (Cabul) terhadap siswi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ubudiatul Hasanah Tapteng dibantah oleh Ketua Yayasan Ubudiatul Hasanah, H. Kamal Lubis (67).

“Itu tidak benar dan sudah terkesan memfitnah Pak,” terang H. Kamal Lubis dalam keterangan persnya didampingi Sekretaris Yayasan Rizqi M. Lubis dan beberapa tenaga pengajar, Jumat (10/6/2022).

Menurut H. Kamal, awalnya dia didatangi oleh beberapa orang yang mengaku-ngaku sebagai Wartawan. Mereka kemudian mencoba mengungkit kembali permasalahan di sekolah yang dipimpinnya, yang telah diselesaikan secara kekeluargaan.

H. Kamal mengaku awalnya tidak tahu persoalan tersebut. Lantaran pada saat itu, dia dan istrinya sedang sakit. Pihak Yayasan kemudian mencoba menyelesaikan persoalan tersebut tanpa campur tangannya. Namun, upaya yang dilakukan tidak berhasil, hingga akhirnya, para pegawai Yayasanpun melaporkan persoalan tersebut kepadanya.

“Saat itu saya langsung ambil tindakan mengundang pihak-pihak yang bermasalah, pihak sekolah, pengurus yayasan serta Kepala KUA selaku Pembina Yayasan. Hasilnya, kedua belah pihak bersepakat berdamai dan dituangkan dalam bentuk Surat Perjanjian,“ ungkap H. Kamal.

Terkait kehadiran beberapa orang yang mengaku-ngaku wartawan, H. Kamal menjelaskan bahwa mereka datang jauh hari setelah persoalan selesai. Saat itu, para oknum yang mengaku-ngaku wartawan tersebut mengancam terduga pelaku perbuatan tak senonoh, akan membuka kembali persoalan.

Saat itu, terduga pelaku diberi 2 pilihan yakni memberi sejumlah uang sebagai uang perdamaian atau kasus tersebut dibuka kembali.

Kejadian tersebutpun dibenarkan oleh SAM yang merupakan terduga pelaku perbuatan tak senonoh di sekolah tersebut.

“Habis lebaran datang beberapa orang mengaku wartawan Pak. Salah seorangnya wanita. Mereka mempertanyakan masalah saya. Mereka mengatakan perdamaian itu tidak sah dan bisa dilaporkan. Saya mengatakan kami sudah berdamai Pak, tetapi mereka tetap mengotot dan meminta uang Rp3 juta dengan alasan untuk berdamai dan tidak mempersoalkan masalah saya. Saya ditakut-takuti, kalau tidak bayar uang damai Rp3 juta akan dilaporkan ke Polda. Akhirnya saya memohon dengan menyanggupi hanya Rp1,5 juta saja. Mereka menerimanya Pak dan langsung pulang,“ kata SAM sembari mengaku kalau uang yang dia berikan diperoleh dengan cara meminjam kepada tetangga.

Tak sampai disitu, beberapa hari kemudian datang lagi beberapa orang yang juga mengaku sebagai wartawan marah-marah ke sekolah tersebut. Namun, setelah salah seorang tenaga pengajar mengatakan bahwa kepala sekolah tidak berada ditempat, merekapun langsung pergi.

Para pegawai dan tenaga pengajar sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada H. Kamal.

Beberapa hari kemudian, oknum yang sama, yang menerima uang dari SAM kembali mendatangi rumah H. Kamal. Sama halnya yang dialami SAM, H. Kamal juga diberi 2 pilihan, memberi uang perdamaian atau persoalan tersebut mencuat kembali.

“Itu sebabnya Pak, saat mereka kembali datang (oknum-oknum mengaku wartawan, red) dibawa ke rumah saya. Saat itu kembali mereka meminta uang Rp5 juta dengan alasan untuk perdamaian. Saya hanya sanggupi Rp2,5 juta, itu pun pinjaman dari anak Pak. Ini semua bukan karena saya takut, tetapi demi menjaga ketentraman proses belajar mengajar,“ kata H. Kamal.

Merasa tak nyaman dengan situasi tersebut, H. Kamal kemudian mengadu ke Ketua DPRD Tapteng Khairul Kiyedi Pasaribu dan menjelaskan semua rentetan kejadian yang mereka alami. Dari mulai cerita adanya kasus dugaan cabul hingga permintaan uang perdamaian oleh oknum yang mengaku-ngaku wartawan.

Beberapa hari kemudian, oknum berbeda yang juga mengaku-ngaku sebagai wartawan kembali mendatangi, H. Kamal.

H. Kamal pun langsung menghubungi Ketua DPRD Tapteng melalui sambungan Handphone untuk bicara dengan salah seorang oknum tersebut.

Hal itulah kemudian digiring oleh para oknum yang mengaku-ngaku wartawan dengan menuding Ketua DPRD Tapteng telah melindungi pelaku.

“Setelah kejadian-kejadian ini, kami merasa tak nyaman. Karena yang datang dan meminta uang damai serta mempersoalkan masalah ini bukanlah pihak yang bermasalah, tetapi pihak dari oknum-oknum yang mengaku wartawan. Saya kemudian meminta pendapat dari Ketua DPRD Bapak Khairul Kiyedi Pasaribu. Wajarkan Pak saya mengadu ke Wakil Rakyat. Apalagi Bapak itu dari daerah pemilihan kami. Saat itu saya mengadu melalui telephone, jawaban dari Pak Khairul, tunggu saya kembali dari Medan, Bapak jangan dulu berpikir macam macam dan khawatir. Apalagi kondisi bapak dan ibu sedang sakit. Insya Allah kita cari solusi yang terbaik. Apalagi kedua belah pihak kan sudah damai. Ini jawaban dari Pak Ketua. Itu sebabnya saat kedatangan wartawan hari Sabtu tanggal 4 Juni 2022 itu, saya langsung sambungkan kepada Bapak Ketua. Jadi tidak benar Bapak Ketua (Khairul Kiyedi Pasaribu,red) melindungi kami atau seperti yang dituliskan diberita itu. Bapak itu baru tahu masalah ini,“ tegas H. Kamal. (red)