PTAR Penambang Generasi Berprestasi di Tapanuli Selatan | 6 Penari Sanipoda Tampil di 2 Festival Budaya Internasional di Turki

kantongberita.com, TAPANULI SELATAN | Ketua Sanggar Seni Sopo Daganak (Sanipoda) Tapanuli Selatan, Sudarso, memberikan apresiasi tinggi kepada PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, atas peran aktif dan kepeduliannya terhadap warga lingkar tambang, khususnya para pelajar di sanggar binaannya.

Menurut Sudarso pada konferensi pers yang digelar di Bagas Silua, sebuah tempat nongkrong asyik di pintu masuk lokasi tambang, Sabtu (7/11/2026), keseriusan dalam membina sanggar seni sebagai bukti PTAR bukan sekadar perusahaan penambang mineral, tetapi juga mampu menambang generasi berprestasi di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang merupakan bagian dari daerah lingkar perusahaan.

Sudarso mengungkapkan, bentuk kepedulian PTAR sangat nyata. Untuk pembinaan anak-anak, perusahaan tidak main-main dengan mendatangkan pelatih profesional.

“Untuk pembinaan anak-anak, saya sebagai ketua itu bagaimana, PTAR mendatangkan pelatih dari daerah juga untuk membina tari tradisional, musik tradisional. Sementara program tambahan, ada yang diturunkan dari orang-orang yang ada di Padang Sidempuan. Nah, musik modern diturunkan orang-orang seni yang ada di Padang Sidempuan. Ada pelatihan gitar, bass, drum,” ujar Sudarso.

Ia mengaku, baru kali ini menemukan perusahaan yang membina sanggar seserius ini.

“Saya rasa cuma di sini, baru ini saya ketemu ada grup, ada sanggar yang didatangkan pelatih-pelatih profesional. Data saya yang sudah lama, kalaupun ada itu bukan dari perusahaan yang mendatangkan, tapi individu. Kalau ini kita dibina, pelatih dihadirkan, lu mau apa, alat apa yang kalian butuhkan. Jadi pembinaan yang dibuat PTAR untuk wadah anak-anak Batang Toru itu sudah saya bilang melebihi yang ada di daerah-daerah yang lain,” ungkapnya.

Dari yang awalnya hanya 50 anak, kini Sanipoda telah membina 600 anak dari Taman Baca Anak (TBA) yang tersebar di 14 desa lingkar tambang, yang dikelola dan diketuai oleh Dastri.

Yang paling membanggakan, semua pembinaan digratiskan. Orang tua tidak dibebani biaya sepeserpun.

“Di sini gratis pak. Anak-anak kalau kita tampil selembar Rupiah pun tidak akan dikeluarkan orang tua hanya untuk kostum dan makeup, semua sudah dikelola oleh pihak tambang,” ungkapnya.

Menurut Sudarso, kunci keberhasilan PTAR dalam membina budaya adalah karena di dalam perusahaan ada orang-orang yang paham seni.

“Biasa memang ternyata ada orang seni yang paham di PTAR, makanya saya bilang perusahaan PTAR sangat mendukung kami-kami yang pelatih-pelatih ini untuk membina adik-adik ini. Sebesar apapun kalau tidak ada orang seni tidak akan ada pengembangan budaya, yakin tidak akan ada,” katanya.

Saking bagusnya model pembinaan, bahkan perusahaan tambang besar di Papua pernah melakukan studi banding ke Batang Toru pada tahun 2015-2017 untuk melihat bagaimana PTAR membina anak-anak di bidang seni.

Secara pribadi, Sudarso juga merasakan dampak besarnya. Ia bisa melanjutkan studi seni hingga ke Yogyakarta dan Medan berkat dukungan PTAR.

“Perusahaan bilang, kamu saya kasih pelatihan ke Jogja, kamu lihat di sana seperti apa. Kalau tanpa PTAR, nggak mungkin saya mengikuti studi sampai ke Jogja,” kenangnya.

“Makanya saya sangat mendukung, seandainya pun nanti saya harus keluar dari sini, saya ingin tetap perusahaan jangan berhenti membina pengembangan budaya di Tapanuli Selatan,” pungkasnya.

Dedikasi PTAR tersebut berbuah manis. Sanggar Sopo Daganak binaan PTAR baru saja mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Enam penari Sanipoda tampil di dua festival budaya internasional di Turki, Oktober 2026 lalu. Dua di antaranya, Dina dan Nadifa, yang turut hadir dalam konferensi pers di Bagas Silua tersebut.

Sekilas, keduanya menceritakan pengalamannya bergabung dalam sanggar seni binaan PTAR. Awalnya ragu dan malu untuk menggeluti seni tari yang belakangan mulai hilang terkikis zaman, hingga akhirnya mampu tampil penuh percaya diri hingga meraih juara di berbagai kompetisi. Dimulai dari tingkat daerah, tingkat nasional hingga internasional.

Perjuangan keduanya dalam berlatih selama bertahun-tahun bersama ratusan anak-anak sanggar lainnya tidak sia-sia. Berkat dukungan dan motivasi dari PTAR, mereka membuktikan mampu tampil dan bersaing.

Pada 25 Oktober 2026, Dina dan Nadifa tampil bersama 4 temannya dalam Pesta Rakyat Budaya (PERAYA) di Istanbul University membawakan The Majesty of Nusantara, Tortor Hata Sopisik, dan Tari Batik Khas Tapanuli Selatan dengan balutan kain karya UMKM binaan PTAR.

Mereka kemudian melanjutkan penampilan di International Festival of Arts “Kuşadası 26” pada 25-29 Oktober 2026 di hadapan sekitar 5.000 penonton dari berbagai negara dan 200 penari mancanegara.

Penampilan di Turki ini menjadi bukti nyata bahwa PTAR tidak hanya menambang emas, tetapi juga menambang potensi dan prestasi generasi muda Tapanuli Selatan untuk bisa bersinar hingga ke panggung dunia. (red)

Iklan
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *