Berpotensi Kelebihan Bayar, Pembangunan Turap Jalan Sudirman Sibolga Masih Pakai Carmix, Bukan Batching Plant

kantongberita.com, SIBOLGA | Pembangunan turap di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Sibolga yang putus total akibat bencana banjir dan longsor pada 25 November 2025 lalu, menuai sorotan.

Pasalnya, hingga hari ini, Sabtu (31/10/2026), CV. Anugrah Bersama Engineering, yang merupakan rekanan pelaksana proyek milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tersebut terpantau masih tetap memakai Carmix dalam pengecoran, bukan menggunakan Batching Plant sebagaimana yang seharusnya untuk proyek dengan kebutuhan kualitas beton tinggi.

Pantauan di lapangan, sebuah unit Carmix atau truk molen kecil yang mencampur beton langsung di lokasi terlihat hilir mudik melakukan pengecoran turap. Padahal, untuk konstruksi turap penahan jalan provinsi yang menopang beban berat dan berada di jalur rawan longsor, penggunaan beton dengan mutu terjamin mutlak diperlukan agar konstruksi bisa bertahan lama.

Secara sistem kerja dan kualitas, keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Carmix (Concrete Mixer Truck kecil / Molen Mini), memiliki sistem kerja mencampur material (semen, pasir, kerikil, air) secara manual dan langsung di lokasi proyek.

Takaran material seringkali hanya berdasarkan perkiraan operator, bukan timbangan digital. Tidak ada laboratorium uji yang mengontrol secara real-time. Akibatnya, mutu beton (K-225, K-300, K-350) tidak konsisten, rawan keropos, dan kekuatannya tidak merata. Carmix biasanya hanya untuk proyek kecil, gang, atau pengecoran skala rumahan.

Sementara Batching Plant, merupakan pabrik beton resmi dengan sistem komputerisasi dan timbangan digital yang akurat. Semua komposisi material ditakar dengan presisi sesuai Job Mix Formula yang telah diuji di laboratorium. Proses pengadukan terkontrol, suhu terjaga, dan setiap truk mixer yang keluar dilengkapi surat jalan (delivery order) serta hasil uji slump test.

Batching Plant juga menghasilkan mutu beton yang jauh lebih tinggi, seragam, dan terjamin kekuatannya sesuai spesifikasi teknis kontrak. Wajib digunakan untuk proyek infrastruktur besar seperti jembatan, jalan provinsi, dan turap penahan tebing.

Pemakaian Carmix oleh rekanan, bukan Batching Plant, akan membuka peluang terjadinya kelebihan bayar pada proyek Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tersebut.

Dalam dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek jalan provinsi, harga satuan pekerjaan beton dengan Batching Plant jauh lebih mahal dibandingkan dengan Carmix, karena sudah mencakup biaya sewa plant, laboratorium, quality control, dan transportasi beton ready mix dari plant ke lokasi.

Jika di RAB tertulis menggunakan beton ready mix Batching Plant (misal K-300), namun di lapangan rekanan menggunakan Carmix, maka ada selisih harga yang sangat besar yang seharusnya menjadi kerugian negara.

“Harusnya pakai Batching Plant untuk memperoleh kualitas beton yang tinggi, sehingga pondasi jalan Sudirman yang putus akibat bencana banjir dan longsor kemarin bisa bertahan lama dan tidak mudah ambruk lagi saat hujan deras,” ujar Sari Gunawan salah seorang warga yang juga pemerhati konstruksi di Sibolga.

Ia khawatir, jika dipaksakan memakai Carmix, turap baru seumur jagung itu akan kembali retak dan jebol saat musim hujan tiba.

Sayangnya, hingga berita ini diterbitkan, pihak UPTD Bina Marga Sibolga yang merupakan perpanjangan tangan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Utara di wilayah Sibolga – Tapanuli Tengah, belum memberikan keterangan resmi terkait alasan rekanan proyek senilai Rp 11.749.839.766,00 (Sebelas Miliar Tujuh Ratus Empat Puluh Sembilan Juta), yang bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 tersebut tetap diperbolehkan memakai Carmix.

Masyarakat berharap Gubernur Sumatera Utara dan Inspektorat segera turun melakukan pengecekan mutu dan audit keuangan proyek turap Jalan Sudirman tersebut. (red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *