kantongberita.com, TAPTENG | Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Kabupaten Tapanuli Tengah menyuarakan kritikan membangun untuk Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah di bawah kepemimpinan Bupati Masinton Pasaribu.
Kritikan tersebut disampaikan melalui Sekretaris terpilih GPA Tapanuli Tengah, Bayu Arfian, SE. Menurutnya, seruan ini timbul karena keresahan para pemuda yang melihat kondisi Tapanuli Tengah saat ini, dimana belum adanya janji-janji politik yang terlaksana dan justru kemunduran yang jelas nampak di depan mata, termasuk langsung di hadapan kantor Bupati itu sendiri.
Dalam wawancaranya, Bayu Arfian mengatakan, pihaknya sebagai bagian dari elemen pemuda yang tumbuh dan berproses di daerah ini merasa terpanggil untuk berbicara bukan atas dasar kebencian atau sentimen politik, melainkan atas keresahan melihat kondisi tata kelola kota di Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Pada masa kampanyenya, janji-janji politik manis tentang sebuah lompatan besar. Mengajak masyarakat bermimpi tentang sebuah daerah yang ‘Naik Kelas’ — sebuah slogan yang menyulut semangat masyarakat Tapanuli Tengah untuk percaya bahwa kemajuan sudah di ambang pintu,” ujar Bayu, Rabu (14/10/2026).
Namun, ketika mencoba mencocokkan retorika “Naik Kelas” itu dengan realitas tata kelola kota hari ini, yang ditemukan justru kontras yang bertolak belakang dengan slogan tersebut.
“Alih-alih melihat daerah ini naik tingkat, kami justru menyaksikan kemunduran yang nyata pada fasilitas-fasilitas publik yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah,” tegasnya.
Bayu mencontohkan kondisi wajah pusat Kota Pandan hari ini. Alun-alun kini tampak suram. Lampu-lampu hiasnya padam meredup, dan air mancurnya membisu kering tanpa kehidupan. Kawasan yang seharusnya menjadi ruang interaksi sosial yang sehat bagi keluarga dan anak-anak muda kini berubah menjadi area mati di malam hari.
“Lebih jauh dari itu, menyusuri kawasan pusat pemerintahan di malam hari kini seperti melintasi lorong ketidakpedulian. Banyak lampu jalan yang mati, dibiarkan gelap gulita tanpa perbaikan, mengundang keresahan warga akan potensi kerawanan sosial. Padahal, kawasan tersebut adalah etalase utama kewibawaan birokrasi daerah,” ungkapnya.
Belum lagi jika bergeser ke fasilitas olahraga rakyat. Jogging track yang setiap pagi dan sore menjadi tempat warga menjaga kebugaran, kini dibiarkan terbengkalai. Lintasan lari banyak yang berlubang, membahayakan keselamatan para lansia dan anak-anak yang ingin berolahraga.
“Ketika ruang publik dasar saja luput dari perawatan, bagaimana mungkin kami percaya bahwa lompatan besar ‘Naik Kelas’ itu sedang dikerjakan? Kami dari GPA Tapteng meminta Pemkab Tapteng lebih serius memperhatikan hal-hal kecil yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” pungkas Bayu Arfian.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah belum memberikan tanggapan resmi terkait kritikan tersebut. (red)




