Satyagatra Jadi Garda Terdepan Atasi Keluarga Rentan dan Tekanan Sandwich Generation di Indonesia

kantongberita.com, SIBOLGA | Permasalahan keluarga di Indonesia kian kompleks, mulai dari lemahnya pengetahuan tentang pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak, tantangan keluarga baru dalam membangun keluarga, hingga kurangnya pemahaman remaja tentang perencanaan penyatuan kehidupan berkeluarga.

Hal tersebut di jelaskan oleh Lusia Malau, dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Sibolga pada kegiatan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) atau Satyagatra yang digelar di Balai Penyuluhan KB Kecamatan Sibolga Utara, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah dengan fenomena Sandwich Generation, dimana 53,81% penduduk di Indonesia merupakan Generasi Milenial dan Gen Z yang harus menanggung beban keluarga di atas dan di bawahnya.

Data juga menunjukkan bahwa kerentanan lansia mencapai 27,5%, dengan 39,7% lansia hanya tinggal bersama 2 generasi di bawahnya.

“Data jumlah gangguan keluarga juga menjadi sorotan. Tercatat sebanyak 10.428 kejadian gangguan keluarga, dengan rincian 25% terkait kekerasan dalam rumah tangga, 21% penelantaran dan lainnya,” terang Lusia.

Selain itu, jumlah perceraian di Indonesia juga menunjukkan angka yang tinggi, dengan 399.921 perkara di tahun 2024, berdasarkan data Mahkamah Agung RI.

Penyelenggaraan Satyagatra memiliki dasar hukum yang kuat, yaitu UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta Peraturan BKKBN.

Rancangan Arah Kebijakan dan Strategi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Tahun 2025-2029 difokuskan untuk meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga berdasarkan siklus hidup dalam mendukung penyiapan SDM berkualitas melalui 5 strategi utama:

1. Peningkatan kemampuan keluarga dalam pengasuhan anak usia dini (0-6 tahun).
2. Peningkatan kualitas remaja termasuk pra-remaja dan penyiapan kehidupan berkeluarga termasuk pencegahan stunting bagi remaja (pra nikah).
3. Pendampingan/pembinaan kemandirian ekonomi keluarga.
4. Peningkatan kualitas lansia melalui pendampingan keluarga.
5. Pendampingan/pembinaan sasaran keluarga rentan.

“Satyagatra yang melaksanakan pelayanan 12 kali dalam 1 tahun menjadi ujung tombak strategi tersebut,” ungkapnya.

Lusia juga menjelaskan kepada warga Sibolga Utara yang menjadi peserta kegiatan, bahwa keluarga rentan adalah keluarga yang tidak mampu berdaya dan memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsi keluarga secara optimal, mencakup kerentanan secara fisik, sosial, dan psikologis.

Sementara Satyagatra didefinisikan sebagai Pusat Pelayanan Keluarga yang sifatnya darurat, yang dapat diakses kapan saja, dimana saja, yang memberikan pertolongan pertama bagi keluarga yang menghadapi masalah baik secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual melalui konseling, pendampingan serta rujukan.

“Kedudukan Satyagatra sendiri ada di tingkat Kabupaten/Kota, dengan pengelola di tingkat Provinsi dan pelaksana/konselor di tingkat Kabupaten/Kota. Hingga Maret 2025, layanan Satyagatra telah tersedia di seluruh Indonesia,” ujar Lusia.

Adapun sasaran pelayanan Satyagatra meliputi manusia usia subur yang mengalami trauma, keluarga yang memiliki resiko dan masalah, calon pengantin, pasangan usia subur atau keluarga yang memiliki konflik, hingga keluarga yang memiliki anggota dengan masalah khusus.

“Selain konseling, Satyagatra juga memberikan pelayanan rujukan kepada fasilitas kesehatan, lembaga layanan, perguruan tinggi, hingga kepolisian,” pungkasnya.

Salah satu peran penting yang disorot adalah Peran Satyagatra dalam menghadapi Sandwich Generation, serta kemampuan konselor dalam memberikan Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) berupa pengetahuan, keahlian, prinsip dan kehati-hatian. (red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *