kantongberita.com, TAPTENG | Akhirnya, titik longsor terakhir akibat bencana banjir dan longsor di sepanjang jalan Poriaha-Rampah Kabupaten Tapanuli Tengah, yang berada di Sigarupu, Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis berhasil dibuka, Rabu (17/12/2025).
Dengan demikian, setelah 12 hari bekerja, tercatat ada 27 titik longsor yang telah berhasil dibuka oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang bekerjasama dengan 4 perusahaan swasta dan BUMN, diantaranya PT. Khayana Multi Prima, PT. PP. tbk, PT. Haka dan PT. Wika
PT. Khanaya Multi Prima.
“Hari ini, titik terakhir dari 27 titik longsor telah berhasil kami buka,” kata Raya Butar-butar, pelaksana dari PT. Khayana Multi Prima, salah satu perusahaan yang me jalin kerjasama dengan Kementerian PU pada pembukaan akses jalan Poriaha-Rampah, Rabu (17/12/2025).
Meski telah dapat dilalui, namun untuk kendaraan berbobot besar kata Raya, belum disarankan lewat jalur ini. Karena, dari 27 titik longsor tersebut, 5 diantaranya mengalami kerusakan yang cukup parah.
Lanjut dijelaskannya, dari 5 titik tersebut, 3 diantaranya kondisinya, hampir separuh badan jalan amblas. Sedangkan 2 titik lainnya, terpaksa harus membuka jalur baru. Karena, kondisi badan jalan yang nyaris amblas sepenuhnya.
“Kalau untuk mobil pribadi sudah bisa lewat, kalau cold diesel, atau mobil besar lainnya, belum bisa. Karena ada 3 titik yang amblas separuh badan jalan. Ada 2 yang amblas sekitar 95 persen, di Sibunga-bunga dan di Sigarupu, dan terpaksa kita alih terase (pembukaan jalur baru), supaya bisa dilalui,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Raya juga berpesan agar kendaraan tidak lewat jalur ini ketika cuaca hujan.
“Karena 5 titik ini, masih perlu penanganan lebih lanjut dan lebih maksimal lagi, sampai bisa dilalui semua kendaraan. Saran saya, kalau cuaca hujan, jangan lewat jalur ini, karena masih berbahaya untuk dilalui,” tukasnya.
Sekilas menurut Raya, pembukaan akses jalan yang tertutup longsor ini telah menjadi target utama mereka dan Kementerian PU untuk secepatnya dapat dilalui kendaraan kembali.
Mengingat, ada ratusan warga di sepanjang jalur Poriaha-Rampah ini yang terisolir selama 22 hari pasca bencana longsor dan banjir yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah dan sekitarnya.
Akibatnya, ekonomi wargapun mandek, karena mereka tidak dapat menjual hasil kebunnya lagi. Mereka juga susah mendapatkan bahan makanan. Anak-anak mereka terpaksa tidak bersekolah karena tertutupnya akses jalan.
“Sejak kami diminta membantu membuka akses jalan ini, target kami harus secepatnya terbuka. Yang kami pikirkan warga disana. Sudah 2 minggu mereka terisolir, kasihan kita melihatnya. Adapun bantuan, gak bisa masuk, jalan tertutup longsor. Mau jual hasil kebun, mereka bingung mau jual kemana. Anak-anak gak bisa sekolah. Makanya kami upayakan mengebut pengerjaannya,” ujar Raya.
Warga pun mengucapkan terimakasih kepada Kementerian PU dan 4 perusahaan mitranya. Karena kerja kerasnya, warga yang sebelumnya terisolir kini sudah dapat melintas.
“Terimakasih kami ucapkan kepada Kementerian PU, bersma PT. Khayana, PT. PP. tbk, PT. Haka dan PT. Wika. Sekarang kendaraan kami sudah dapat lewat, anak-anak kamipun sudah dapat pergi ke sekolah. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih kepada PT. Khanaya,” ujar warga Sigarupu yang gembira dengan pembukaan jalan Poriaha-Rampah yang dilakukan oleh PT. Khayana.
Dari informasi yang diperoleh, sekitar seminggu sebelumnya, akses jalan dari Rampah menuju Kota Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara telah terlebih dahulu berhasil dibuka.
Dengan terbukanya akses jalan Poriaha-Rampah, secara otomatis telah membuka jalur dari Kota Sibolga menuju Kota Tarutung.
Karena sebelumnya, kendaraan yang ingin bepergian menuju Tarutung, Siborong-borong, Balige, Parapat hingga Medan harus melalui jalur Barus-Pakkat atau Barus-Subulussalam Aceh. Akibatnya, sejumlah bahan pokok mengalami lonjakan harga yang signifikan.
Dengan terbukanya jalur Sibolga-Tarutung diharapkan, harga-harga kebutuhan pokok kembali normal. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru. (red)





