kantongberita.com, TAPTENG | Biaya pemasangan sambungan baru air di Perumda Mual Nauli Tapteng tembus hingga angka Rp5 juta.
Tingginya biaya pasang ini menjadi perdebatan di tengah-tengah masyarakat, yang menilai penetapan biaya tersebut sangat mencekik.
Seperti yang dialami Paet Hutabarat, warga Kecamatan Tapian Nauli, tepatnya di Dusun 1 Poriaha yang mengaku membayar Rp5 juta untuk pemasangan sambungan baru air dari Perumda Mual Nauli Tapteng.
Meski berbiaya tinggi, Paet mengaku terpaksa membayar karena sangat membutuhkan air masuk hingga ke rumah.
Sebelumnya, Paet dan keluarganya memperoleh air dari tempat penampungan air umum, yang jaraknya cukup jauh dari kediamannya.
Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, Paet dan istrinya tidak lagi mampu menjalankan rutinitas mereka sebelumnya, menampung air dan membawanya hingga ke rumah.
“Rp5 juta, dipasang bulan November (2025) itu. Habis dipasang langsung kubayar Rp5 juta. Memang kami butuh air, rumah kami jauh dari tempat pengambilan air,” terang Paet, Kamis (22/1/2026).
Uang Rp5 juta tersebut kata Paet, hanya untuk biaya pasang, tidak termasuk pipa. Karena menurutnya, semua pipa yang dipakai untuk instalasi adalah miliknya, bukan dari Mual Nauli.
“Orang itu hanya menyambungkan saja. Pipa ku nya semua itu,” ungkapnya.
Ginting, warga lainnya juga mengaku baru memasang sambungan baru air ke rumahnya. Untuk harga yang dia bayarkan, lebih murah Rp200 ribu dari yang dibayarkan Paet Hutabarat.
“Kalau aku bayar Rp4.800.000,” kata Ginting.
Kedua warga Dusun 1 ini mengaku menyerahkan uang tersebut langsung kepada petugas Perumda Mual Nauli bermarga Tambunan. Lembayaran tersebutpun tanpa disertai kwitansi sebagai tanda terima.
Anehnya lagi, meski sudah 3 bulan pasca pemasangan, hingga kini meteran air ke rumah kedua warga Dusun 1 Poriaha tersebut belum juga dipasang.
Saat ditelusuri, diketahui pria bermarga Tambunan tersebut yakni Jojor Tambunan, pegawai Perumda Mual Nauli yang bertugas di kantor Cabang Tapian Nauli.
Kepada wartawan, Jojor mengakui mengutip biaya pasang dari warga Dusun 1 hingga Rp5 juta. Namun, Jojor menyebut kalau itu merupakan besaran harga pasang yang ditetapkan oleh Perumda Mual Nauli.
“Ku bor nya itu, makanya segitu biaya pasangnya. Pas nya itu. Melihat medannya lagi, kalau krosing. Kalau itu, membuka pipa distribusi lagi,” terang Jojor.
Saat ditanya terkait anggaran dari Mual Nauli untuk setiap pemasangan instalasi baru, Jojor menyebut tidak pernah ada.
“Kalau di kami, dari PDAM, sudah berapa kali kukerjakan mengkrosing tapi gak pernah dibayar dari kantor,” tukasnya.
Perihal kwitansi sebagai bukti pembayaran yang tidak diberikan, Jojor juga mengakuinya. Saat itu kata Jojor, dia hanya menyodorkan lembaran berita acara untuk ditandatangani oleh pelanggan sebagai bukti kalau instalasi air telah terpasang.
“Gak ada. Kalau kwitansi adanya di kantor. Kalau setiap selesai pemasangan, adanya mereka tandatangani berita acaranya,” ucapnya.
Begitu juga katanya terkait meteran air yang belum dipasang. Menurutnya, tak hanya kedua pelanggan di Dusun 1 Poriaha tersebut, bahkan masih ada 7 pelanggan baru lainnya yang juga terkendala pemasangan pipa. Alasannya, karena bencana alam yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Karena bencana ini. Kendalanya sekarang pemasangan kami untuk yang baru. Bahkan di kantor kami 7 lagi sekarang (yang belum dipasang),” pungkasnya. (red)










