banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

Ditengah Pandemi Covid-19 Ibu Ini Menangis, Listrik Rumahnya Diputus PLN

  • Bagikan
Foto : Yennimar Simatupang menangis saat melihat listrik rumahnya telah diputus PLN.

Kantong Berita, TAPTENG-Ditengah perjuangannya mencari keadilan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), pihak PLN akhirnya memutus aliran listrik rumah Yennimar Simatupang.

Sebelumnya, pihak PLN hanya membongkar meteran listrik rumah janda beranak 3 tersebut.

Menurut Yennimar, ditemui di rumahnya di Komplek Perumahan Tukka Lestari, Kelurahan Bona Lumban, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) sambil menangis dia mengatakan bahwa petugas P2TL memutus aliran listrik rumahnya, saat kondisi rumah kosong.

“Mulai pagi aku di kantin. Tadi aku pulang, karena anak-anak mau sholat jumat. Kulihat, sudah dicabut aja listrik kami,” kata Yennimar.

Saat dia buka pintu rumah, dia hanya menemukan selembar kertas dari petugas P2TL di lantai.

Dia mengaku sedih dengan perlakuan perusahaan plat merah tersebut. Ditengah Pandemi Covid-19, penderitaan yang dialaminya sebagai warga negara bertambah parah.

“Sudah cari makan susah di saat Pandemi ini, listrik pun diputus. Gak tahu apa salah saya. Bayar listrik gak pernah telat. Mahal pun ku bayar. Pernah sampai Rp600 ribu, ku bayar. Padahal, Senin sampai Jumat rumah selalu kosong. Karena saya kerja di kantin. Di rumah gak ada AC, reskukerpun gak ada. Hanya lampu sama kulkas aja,” ketusnya.

Baca Juga :   Supervisor Pengawas P2TL PLN Sibolga Sebut Pembongkaran Meteran Tanpa Penyidik 'Sah'

Yennimar berharap perhatian Pemerintah untuk masalah yang dihadapinya. Karena menurutnya, hingga sidang kedua di kantor BPSK Sibolga, pihak PLN belum membuktikan pencurian arus yang dituduhkan padanya.

“Kemarin saya tanya, dimana saya mencuri arusnya. Kata petugas yang datang kesini, ada kabel biru katanya. Akupun gak ngerti, karena aku buta sama sekali dengan listrik ini. Dijelaskannyapun, gak ngerti aku. Kemudian, waktu kami datang ke kantor PLN di Sibolga, pak Khairul (Supervisor Pengawas P2TL) itu bilang yang bermasalah kabel merah. Kutanya, kok jadi mereha, kemarin birunya. Katanya, anggotanya salah menyampaikan. Jadi, yang mana yang benar, gak tahu. Karena gak ada solusi, makanya saya lapor ke BPSK, untuk meminta keadilan,” ungkap Yennimar.

Baca Juga :   Sidang Sengketa Konsumen Janda VS PLN Sibolga Diundur; Belum Ada Berkas yang Diserahkan

Dia juga mengaku tidak terima dengan sikap PLN yang dianggapnya arogan. Karena, sebelum pembongkaran meteran, pihak PLN kata Yennimar tidak pernah sekalipun memberi surat teguran atau penjelasan sebagai edukasi kepada pelanggan.

“Saya bilang ini arogan, main putus aja. Kalaupun ada yang salah dengan meteran kami, kenapa kemarin gak dicek dulu, kemudian diperingati kami, dijelaskan apa kesalahan kami. Ini, langsung main bongkar. Kita gak tahu, entah meteran itu yang sudah rusak, kok pelanggan yang disalahkan. Waktu sidang di BPSK, PLN aja belum memberikan penjelasan hasil pemeriksaan laboratorium meteran itu. Kenapa langsung menuduh saya mencuri arus,” pungkasnya sembari menunjukkan surat panggilan dari BPSK Sibolga untuk menghadiri sidang putusan, Senin (19/7) mendatang.

Belum diperoleh informasi dari pihak PLN cabang Sibolga. Menurut Satpam yang ditemui di pos jaga kantor PLN cabang Sibolga, Menager dan Humas sedang tidak berada di kantor. (rif)

  • Bagikan